Headlines

Ekspor Tembus Rp 261 M, Perikanan di Kaltim

Potensi perikanan di Kaltim, cukup tinggi. Bahkan nilai ekspor tembus Rp 261 miliar pada semester pertama tahun 2026. Udang Windu menjadi yang tertinggi nilai ekspornya.

Di tengah dominasi batu bara sebagai penopang ekspor Kalimantan Timur, sektor perikanan mulai menunjukkan potensi sebagai sumber pendapatan baru. Pada semester pertama 2026, komoditas hasil laut dari Benua Etam, nilai ekspor mencapai Rp261 miliar, menandai meningkatnya daya saing produk perikanan daerah di pasar internasional.

Berdasarkan data Data Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kaltim, sebanyak 1.446 ton komoditas perikanan berhasil dipasarkan ke berbagai negara sepanjang Januari hingga Juni tahun 2026 ini. Capaian tersebut dinilai menjadi peluang untuk memperkuat ekonomi masyarakat pesisir sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil tangkapan nelayan.

Kepala Bidang Perikanan Budidaya dan Penguatan Daya Saing Produk Perikanan DKP Kaltim, Irma Listiawati mengatakan, terbukanya akses pasar ekspor memberikan dampak langsung terhadap peningkatan nilai jual produk perikanan, dibanding hanya dipasarkan di dalam negeri.

“Nilai ekspor ini pada akhirnya ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan sekaligus memberikan nilai tambah terhadap hasil perikanan yang diproduksi di Kaltim,” ungkap Irma, Rabu, (29/7/2026).

Dari seluruh komoditas yang diekspor, udang windu masih menjadi penyumbang terbesar. Dalam 6 bulan pertama 2026, komoditas tersebut mencatat volume ekspor mencapai 863,9 ton dengan nilai sekitar Rp192,9 miliar atau hampir tiga perempat dari total nilai ekspor perikanan Kaltim.

Dominasi itu menunjukkan permintaan udang Kaltim, masih kuat di pasar internasional. Selain udang windu, ekspor juga ditopang udang pink, udang putih, kerapu segar, dan bawal putih segar yang terus memperoleh permintaan dari berbagai negara.

Irma mengatakan, tingginya permintaan terhadap udang asal Kaltim menunjukkan produk lokal mampu memenuhi standar yang diinginkan pasar internasional. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi peluang untuk terus meningkatkan produksi sekaligus memperluas pangsa pasar ekspor.

Baca Juga:  Dianggap Ulur Waktu, Fraksi Golkar soal Hak Angket ke Kemendagri

“Permintaan dari luar negeri masih cukup baik. Tantangan kami sekarang adalah menjaga kontinuitas pasokan tanpa mengurangi kualitas produk yang selama ini menjadi kepercayaan pembeli,” ujarnya.

Produk-produk tersebut dipasarkan ke sedikitnya 12 negara tujuan, meliputi Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, Vietnam, Malaysia, Singapura, Filipina, India, Arab Saudi, Australia, Amerika Serikat, dan Inggris. Luasnya jangkauan pasar tersebut, menjadi indikator meningkatnya kepercayaan pembeli luar negeri terhadap mutu hasil laut asal Benua Etam.

Dikatakan Irma, mempertahankan pasar ekspor tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan produksi. Standar mutu menjadi faktor yang menentukan agar produk tetap diterima di negara tujuan.

Menurutnya, setiap komoditas yang akan dikirim ke luar negeri harus melalui proses pemeriksaan dan pengawasan kualitas sesuai standar internasional. Langkah tersebut, dilakukan untuk memastikan produk memenuhi persyaratan keamanan pangan. Sekaligus meminimalkan potensi penolakan, saat tiba di pelabuhan tujuan.

“Kepercayaan pasar internasional dibangun dari kualitas produk yang konsisten. Karena itu jaminan mutu menjadi hal yang tidak bisa ditawar,” ujarnya.

Selama Januari hingga Juni 2026, Pemerintah Provinsi Kaltim telah memfasilitasi penerbitan 1.072 sertifikat jaminan mutu ekspor. Sertifikat tersebut menjadi dokumen penting bagi pelaku usaha perikanan karena menjadi syarat utama dalam perdagangan internasional.

DKP Kaltim juga terus memperkuat layanan ekspor melalui penyederhanaan proses administrasi dan dukungan logistik. Perbaikan rantai distribusi dinilai penting, terutama untuk menjaga kualitas komoditas segar yang memiliki masa simpan relatif singkat.

Ia menambahkan, pemerintah daerah tidak hanya berfokus pada peningkatan volume ekspor, tetapi juga mendorong pelaku usaha perikanan memiliki daya saing yang lebih kuat melalui peningkatan mutu dan kemudahan layanan.

“Kami ingin pelaku usaha dan nelayan tidak hanya mampu menjual hasil tangkapan, tetapi juga memperoleh nilai ekonomi yang lebih tinggi melalui akses pasar ekspor. Karena itu pembinaan, sertifikasi, dan pelayanan akan terus kami perkuat,” kata Irma.

Baca Juga:  Tak Bisa Menahan Diri, Pengadaan Mobil Dinas Disorot

Irma menilai prospek ekspor perikanan Kaltim masih terbuka lebar. Selain mempertahankan pasar yang sudah ada, pemerintah daerah juga berupaya memperluas akses ke negara tujuan baru agar volume perdagangan terus meningkat.

“Kami terus memperkuat pelayanan ekspor dan menjaga standar mutu agar produk perikanan Kaltim semakin kompetitif di pasar internasional. Harapannya, manfaat ekonominya semakin dirasakan oleh masyarakat pesisir dan pelaku usaha perikanan,” tutupnya.(MAYANG SARI/ARIE)

Leave Comment

Related Posts