Headlines

Punya Cadangan Karbon Strategis, Karst Sangkulirang-Mangkalihat

Karst Sangkulirang-Mangkalihat berperan penting secara nasional, apalagi punya cadangan karbon yang cukup besar secara nasional. Terkait penetapan Geopark, ada aspek penting yang perlu diperhatikan pemerintah.

Berakhirnya tahapan verifikasi lapangan Geopark Nasional Bentang Alam Sangkulirang-Mangkalihat, menegaskan arti penting kawasan karst terbesar di Kalimantan Timur tersebut.

Di balik kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, dan warisan budayanya, kawasan seluas sekitar 1,8 juta hektare itu diperkirakan menyimpan cadangan karbon mencapai 275,57 gigaton karbon (Gt-C), yang berperan dalam membantu menekan emisi gas rumah kaca di Kaltim maupun Indonesia.

Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Timur, Sri Wahyuni mengatakan, cadangan karbon tersebut menunjukkan Sangkulirang-Mangkalihat memiliki fungsi yang jauh melampaui kawasan konservasi biasa. Karbon yang tersimpan secara alami di hutan, vegetasi, tanah, dan bentang alam karst akan tetap tersimpan selama ekosistemnya terjaga, sehingga membantu mengurangi emisi gas rumah kaca.

“Dengan cadangan karbon tersebut, emisi Provinsi Kalimantan Timur mampu ditekan hingga 16,04 persen dan emisi nasional sebesar 0,74 persen setiap tahun,” ujar Sri, Senin, (13/7/2026).

Selain berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim, Sangkulirang-Mangkalihat juga menjadi salah satu bentang alam karst terpenting di Indonesia. Kawasan yang membentang di Kabupaten Kutai Timur dan Berau itu, memadukan tiga pilar utama geopark, yakni keragaman geologi, keanekaragaman hayati, dan warisan budaya dalam satu lanskap yang saling berkaitan.

Dari sisi geologi, kawasan tersebut menyimpan batuan purba yang terbentuk sejak periode kapur, bentang karst yang masih alami, hingga jejak endapan delta purba yang merekam sejarah pembentukan bumi selama jutaan tahun. Nilai ilmiahnya semakin kuat dengan ditemukannya lukisan cadas di sejumlah gua yang menjadi bukti aktivitas manusia sejak masa prasejarah.

Menurut Sri, kekayaan tersebut menjadi modal penting bagi Kaltim. Agar mengembangkan kawasan yang tidak hanya berorientasi pada pelestarian lingkungan, tetapi juga mendukung pendidikan, penelitian, dan pariwisata berbasis alam.

“Selain menilai kekayaan geologi, tim verifikasi juga meninjau aspek pengelolaan kawasan, konservasi keanekaragaman hayati, pelibatan masyarakat, serta pengembangan ekonomi lokal yang menjadi syarat utama dalam pengelolaan geopark berkelanjutan,” katanya.

Perjuangan mengusulkan Sangkulirang-Mangkalihat sebagai Geopark Nasional, kata Sri, telah dimulai sejak 2019. Pemprov Kaltim bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) melakukan inventarisasi keragaman geologi, hayati, dan budaya sebagai dasar penyusunan dokumen pengusulan.

Upaya tersebut membuahkan hasil pada 2024, ketika Kementerian ESDM menetapkan kawasan ini sebagai Situs Warisan Geologi. Penetapan tersebut mencakup 26 geosite, terdiri atas 11 geosite di Kutai Timur dan 15 geosite di Berau. Status itu, menjadi landasan ilmiah sekaligus memperkuat usulan Geopark Nasional.

Baca Juga:  Pasrah Diganti, Dirut Sebut Hak Pemegang Saham

Pengelolaan kawasan juga diperkuat melalui Program SIGAP (Aksi Inspiratif Warga untuk Perubahan) dan berbagai skema Perhutanan Sosial, termasuk Hutan Desa. Program tersebut mendorong masyarakat menyusun rencana pengelolaan sumber daya alam secara partisipatif, memperkuat kelembagaan desa, mengembangkan mata pencaharian berkelanjutan, sekaligus menjaga kawasan hutan, karst, dan keanekaragaman hayati.

Sebagai informasi, rangkaian verifikasi lapangan oleh Tim Verifikasi Geopark Nasional Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berlangsung pada 6–10 Juli 2026. Selama lima hari, tim melakukan penilaian terhadap berbagai aspek yang menjadi standar sebuah geopark. Mulai dari keragaman geologi, tata kelola kawasan, konservasi keanekaragaman hayati, pelibatan masyarakat, hingga pengembangan ekonomi lokal yang berkelanjutan.

Usai seluruh rangkaian verifikasi lapangan rampung, Pemprov kini menunggu hasil evaluasi Tim Verifikasi Geopark Nasional, yang akan menjadi salah satu dasar penetapan status Geopark Nasional oleh pemerintah pusat.

Ia mengatakan, pemerintah optimis seluruh potensi Sangkulirang-Mangkalihat, baik dari aspek geologi, keanekaragaman hayati, nilai budaya, maupun tata kelola kawasan, telah dipaparkan secara menyeluruh selama proses penilaian berlangsung.

Sri menambahkan, Pemprov pun siap menindaklanjuti setiap rekomendasi yang nantinya disampaikan tim verifikasi, sebagai bagian dari penyempurnaan pengelolaan kawasan.

“Bagi kami, status Geopark Nasional bukan sekadar sebuah pengakuan. Yang lebih penting adalah bagaimana kawasan ini terus terjaga, memberikan manfaat bagi masyarakat, sekaligus mendukung upaya pelestarian lingkungan dan pengendalian perubahan iklim,” pungkasnya.

TAK CUKUP MODAL KARST

Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman (Unmul), Rustam, menilai kesiapan masyarakat dan kemudahan akses menuju geosite menjadi dua aspek yang masih perlu mendapat perhatian. Menurutnya, kedua hal tersebut akan menentukan keberlanjutan pengelolaan geopark, di samping kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, dan warisan budaya yang telah dimiliki kawasan Sangkulirang-Mangkalihat.

“Geopark ini sebenarnya untuk branding. Kalau nanti terangkat menjadi global, orang akan penasaran apa yang ada di kawasan ini sehingga mereka datang berkunjung,” ujarnya, Senin, (13/7/2026).

Rustam mengatakan, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam pengelolaan geopark. Karena itu, pemahaman masyarakat mengenai konsep geopark perlu terus diperkuat.

“Kalau nanti ada tim yang datang ke kampung lalu bertanya kepada kepala kampung apakah tahu ada geopark di sini, tetapi jawabannya tidak tahu, tentu itu menjadi persoalan. Masyarakat harus memahami bahwa mereka merupakan bagian dari kawasan geopark,” katanya.

Baca Juga:  Enggak Tahu Diri

Menurut Rustam, perguruan tinggi juga dapat mengambil peran dalam mendukung upaya tersebut. Salah satunya melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN), yang melibatkan mahasiswa di desa-desa sekitar kawasan geopark.

Mahasiswa Unmul yang telah dilepas untuk mengikuti KKN, akan memperoleh pembekalan mengenai geopark secara daring. Selanjutnya, mereka diwajibkan melaksanakan program tematik di lokasi penugasan masing-masing sebagai bagian dari edukasi kepada masyarakat.

“Semua mahasiswa KKN kami bekali dengan isu geopark. Mereka pun wajib membuat program tematik di desa tempat mereka bertugas sehingga bisa membantu kebutuhan daerah,” ujarnya.

Ia menilai, program KKN seharusnya tidak hanya berisi kegiatan administratif, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan riil daerah. Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa diharapkan menjadi bagian dari kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dalam memperkuat pengelolaan geopark.

Selain aspek sosial, Rustam juga menyoroti persoalan akses menuju sejumlah geosite yang masih menjadi tantangan di kawasan Kutai Timur.

Menurutnya, tidak semua geosite memiliki tingkat aksesibilitas yang sama. Sejumlahh lokasi masih memerlukan dukungan infrastruktur, agar lebih mudah dijangkau wisatawan.

Sebaliknya, Kabupaten Berau dinilai telah memiliki modal yang lebih kuat dari sisi pariwisata. Destinasi seperti Kepulauan Derawan, Maratua, Biduk-Biduk, dan Kakaban selama ini telah dikenal luas oleh wisatawan. Sekaligus menjadi bagian dari geosite Geopark Sangkulirang-Mangkalihat.

“Kalau wisatawan ke Kepulauan Derawan, hampir pasti mereka datang ke Maratua dan Kakaban. Itu geosite yang memang paling banyak dikunjungi,” tutur Rustam.

Rustam menilai, pengalaman Berau menunjukkan bahwa akses yang baik akan berdampak pada meningkatnya kunjungan wisata. Sebab itu, pengembangan infrastruktur menuju geosite lain juga perlu menjadi perhatian. Supaya manfaat ekonomi dari geopark dapat dirasakan lebih merata oleh masyarakat sekitar.

Ia menambahkan, apabila Sangkulirang-Mangkalihat nantinya ditetapkan sebagai Geopark Nasional, pengelolaan kawasan harus terus diperkuat. Menurutnya, status tersebut bukan tujuan akhir, melainkan pijakan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan kawasan. Sehingga memiliki kesiapan apabila suatu saat diajukan menjadi UNESCO Global Geopark. “Kalau nanti status nasional sudah diperoleh, pekerjaan sebenarnya baru dimulai. Semua pihak harus bersama-sama mempersiapkan kawasan ini agar benar-benar siap ketika suatu saat diusulkan menjadi UNESCO Global Geopark,” pungkasnya.(MAYANG SARI/ARIE)

Leave Comment

Related Posts