Headlines

Rita is Back, Ingin Luruskan Informasi dan Masalah Hukum

Rita Widyasari kembali ke Tenggarong, setelah menjalani masa tahanan sekira hampir 10 tahun. Kedatangannya disambut konvoi warga Kukar. Apakah ini pertanda Rita akan balik ke panggung politik? 

JUMAT (12/6) menjelang petang pukul 17.11 Wita, mantan Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Rita Widyasari tiba di Bandara APT Pranoto Samarinda dengan pesawat Batik Air dengan nomor penerbangan ID 6676 dari Bandara Sokarno-Hatta, Banten.

Putri mendiang Syaukani Hasan Rais itu mengenakan pakaian serba hitam. Dress panjang hitam dan jilbab hitam serta masker penutup muka. Selintas cukup sulit dikenali.

Rita tidak buru-buru pergi. Tercatat sekira setengah jam, atau pukul 17.40 ia bersama rombongan penjemputnya baru meninggalkan Bandara Samarinda, menuju Tenggarong, Kukar. Menunggu kondisi lebih sepi.

Mobil Hyundai Creta warna putih yang membawa Bunda Rita– sapaan akrabnya, ke Tenggarong. Diiringi tiga mobil lainnya.

Rombongan berhenti di Pos Polisi Lembuswana pada pukul 18.30 Wita. Kedatangannya disambut warga Kukar. Rita kemudian turun dan menumpang rombongan sepeda motor. Mereka konvoi.

Menurut pantauan Bayu Surya, Biro Disway Kaltim Kukar, konvoi rombongan perempuan kelahiran Tenggarong, November 1973 itu mengular hingga 4 kilometer.

Rombongan tiba di Bundaran Jembatan Tenggarong pada pukul 19.00 Wita. Mereka disambut rombongan kedua hingga menuju kediaman orangtua Rita di Jalan Melati Tenggarong.

Besoknya, Sabtu (13/6) malam. Rita tiba-tiba muncul di acara Wartawan Legend Berdapatan ke-4 di Hotel Claro Pandurata, kompleks Stadion Kadrie Oening, Sempaja, Samarinda. Terang saja, ia menjadi sasaran para wartawan.

AGENDA POLITIK

Saat menghadapi wartawan, ia tampak santai menjawab berbagai pertanyaan. Mulai dari isu pemberitaan, hubungan dengan tokoh politik Kalimantan Timur hingga kemungkinan kembali ke panggung politik.

Namun, di tengah berbagai spekulasi yang terus mengiringi namanya, Rita menegaskan saat ini dirinya belum memiliki agenda politik apa pun.

Fokusnya masih tertuju pada penyelesaian persoalan hukum, dan upaya meluruskan sejumlah informasi yang menurutnya belum tersampaikan secara utuh kepada publik.

Menurut Rita, ada beberapa pemberitaan yang masih mengganjal, karena dinilai tidak menggambarkan keseluruhan fakta yang ia pahami.

“Harapan saya mudah-mudahan ada pemberitaan yang benar. Saya ini lagi berjuang supaya berita saya benar. Supaya antara saya dan penyidik itu jelas”.

Ia mencontohkan, sejumlah informasi yang berkaitan dengan kasus hukum yang pernah menjeratnya. Salah satunya, menyangkut pemberitaan mengenai laporan kekayaan serta berbagai informasi lain yang berkembang selama proses hukum berlangsung.

“Ada beberapa yang miss dalam pemberitaan. Misalnya laporan kekayaan saya pada kasus yang pertama. Kemudian pemberitaan soal bebas saya. Itu bagian-bagian yang ternyata tidak tertangkap dengan baik oleh wartawan,” ujarnya.

Baca Juga:  Batal Dapat Untung, Penyedia Mobil Dinas Rp 8,5 Miliar

Rita mengaku, tidak mempermasalahkan kritik maupun sorotan publik terhadap dirinya. Namun ia berharap, informasi yang disampaikan kepada masyarakat tetap berlandaskan fakta yang lengkap. Sehingga tidak menimbulkan persepsi yang keliru.

Sebab itu, dalam beberapa kesempatan, ia memilih menjelaskan pandangannya melalui media sosial pribadi.

INFORMASI UTUH

Menurut dia, ada sejumlah hal yang perlu disampaikan secara langsung, agar masyarakat memperoleh informasi yang lebih utuh.

Dalam pernyataan yang diunggah di media sosial dan dikutip media lokal, Rita mengakui dirinya telah bebas murni sejak Agustus 2025, dan menyayangkan minimnya pemberitaan mengenai status tersebut.

Selain itu, namanya masih sering dikaitkan dengan dinamika politik Kaltim, Rita menegaskan dirinya belum memikirkan langkah politik apa pun dalam waktu dekat.

Ia mengaku, lebih nyaman berada di tengah masyarakat dan melakukan berbagai aktivitas sosial yang dapat memberikan manfaat bagi banyak orang.

“Fokus saya ingin berada di tengah-tengah masyarakat. Selama saya masih bisa membantu masyarakat dalam hal yang baik-baik, saya akan lakukan. Kalau ditanya agenda politik, belum sama sekali. Saya hanya ingin berbuat baik saja,” tuturnya.

Pernyataan itu sekaligus menjawab berbagai spekulasi yang muncul, mengenai kemungkinan dirinya kembali aktif dalam kontestasi politik pada masa mendatang.

HUBUNGAN DENGAN GUBERNUR RUDY

Dalam kesempatan yang sama, Rita juga berbicara mengenai komunikasinya dengan Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud.

Ia mengungkapkan, hubungan komunikasi dengan Rudy tetap terjalin baik. Bahkan saat masih berada di Jakarta, Rita mengaku sempat menerima kunjungan Rudy maupun istrinya, Syarifah Suraidah.

“Kalau Pak Rudy, waktu saya di Pondok Bambu beliau pernah datang satu kali. Di Tangerang juga dua kali. Istrinya pernah datang sekali,” beber Rita.

Rita menjelaskan, komunikasi terakhir mereka terjadi pada masa kampanye Pilkada Benua Etam. Saat itu, Rudy meminta bantuan untuk menjalin silaturahmi dan menyampaikan dukungan kepada masyarakat Kutai Kartanegara.

“Beliau minta bantu buat video untuk Kukar, untuk kampanye dan silaturahmi mendukung Pak Rudy Mas’ud. Itu komunikasi terakhir kami,” sebutnya.

Meski demikian, Rita menegaskan dirinya tidak pernah terlibat dalam tim politik, maupun struktur pemenangan pasangan calon tertentu.

“Saya enggak pernah ikut-ikut tim politik. Enggak pernah,” tegasnya.

Saat ditanya mengenai kemungkinan kembali maju dalam

kontestasi politik, apabila masyarakat memberikan dukungan pada 2030 mendatang, Rita memilih memberikan jawaban yang hati-hati.

Menurut dia, terlalu dini membicarakan pencalonan atau jabatan politik. Karena saat ini masih ada persoalan hukum yang belum sepenuhnya selesai.

“Bismillah saja ya. Doakan saja kalau masalah hukumnya baik. Ini masalahnya, masalah hukum itu belum selesai. Karena (sampai sekarang, Red.) saya masih berjibaku dengan masalah hukum itu,” imbuhnya.

Baca Juga:  Kalau Belum, Bisa Ditunda, Pengadaan Mobil Dinas Pemprov Kaltim

Jawaban tersebut menunjukkan, Rita belum ingin menjadikan politik sebagai prioritas utama dalam kehidupannya saat ini.

Baginya, menyelesaikan persoalan yang masih berlangsung jauh lebih penting dibanding membicarakan peluang politik beberapa tahun ke depan.

“SIAPA TAKUT?”

Meski demikian, suasana menjadi lebih cair ketika awak media kembali menanyakan, bagaimana jika masyarakat tetap menghendaki dirinya kembali memimpin, khususnya menjadi orang nomor satu di Benua Etam.

Pertanyaan itu disambut senyum Rita. Tanpa memberikan penjelasan panjang, ia menjawab singkat.

“Kalau rakyat mendukung? Siapa takut?” ucapnya.

Jawaban spontan tersebut, langsung memancing tawa sejumlah orang yang mengantar kepulangannya usai acara temu kangen tersebut.

TERHARU

Rita mengaku terharu melihat sambutan yang diberikan masyarakat. Perasaan itu semakin kuat saat dirinya melintasi sejumlah kawasan yang pernah menjadi bagian dari pembangunan semasa menjabat sebagai bupati.

“Terharu, ya Allah. Apalagi tadi pas melewati jembatan. Dari turun pesawat sampai di dalam pesawat saya tidak pernah buka penutup wajah, biasa saya suka menyamar supaya tidak terlalu dikenali,” ujar Rita kepada awak media.

Ia mengaku semula tidak menyangka akan mendapat sambutan meriah. Bahkan menurutnya, ia mengira hanya sedikit orang yang akan datang menyambut kepulangannya.

“Saya pikir tidak banyak orang. Ternyata di luar sudah banyak yang menunggu, ada motor-motor juga. Katanya naik motor saja, ya sudah saya ikut. Banyak iring-iringan. Alhamdulillah, luar biasa, disambut luar biasa. Tidak terbayangkan,” katanya.

Dalam perjalanan menuju Tenggarong, Rita juga sempat memperhatikan sejumlah perubahan di kawasan kota yang pernah dipimpinnya.

Salah satu yang mencuri perhatiannya adalah kawasan tepi sungai yang kini berkembang menjadi ruang publik. Ia mengingat kembali gagasannya saat melakukan penataan kawasan tersebut pada masa pemerintahannya.

“Saya lihat sekilas. Dulu saya yang membongkar kawasan itu. Memang cita-cita saya ingin membuat tempat seperti itu, tempat orang berkumpul dan bersantai. Alhamdulillah sekarang sudah jadi, bagus dan keren,” ucapnya.

Selain melihat perkembangan kota, Rita mengaku ingin kembali mengunjungi rumah dan aset keluarga yang telah lama ditinggalkannya selama menjalani masa tahanan.

Menurut dia, kerinduan terhadap kampung halaman menjadi alasan utama untuk kembali melihat berbagai tempat yang memiliki nilai historis dalam kehidupannya.

“Saya lahir di sini. Sudah lama tidak tinggal di rumah ini. Saya ingin melihat lagi rumah dan tempat-tempat yang dulu. Masih ada aset dan sebagainya, jadi ingin melihat-lihat kembali,” kata Rita. (*/mayang/rahmat/bayu)

Leave Comment

Related Posts