Headlines

Bentang Pesisir Kaltim, Mangrove di Kota Bontang

Kawasan mangrove di Kota Bontang, cukup pesar perkembangannya. Hingga dapat menjadi salah satu benteng yang cukup luas di kawasan pesisir.

Hamparan hutan bakau yang membentang di pesisir Kota Bontang terus menarik perhatian wisatawan. Di tengah perkembangan kawasan industri dan perkotaan, Bontang Mangrove Park tumbuh menjadi salah satu destinasi unggulan Kalimantan Timur yang menawarkan pengalaman berbeda melalui perpaduan wisata alam, edukasi lingkungan, dan upaya konservasi.

Kawasan ekowisata ini menjadi salah satu contoh pengelolaan destinasi berbasis pelestarian alam yang berkembang di Kaltim. Selain menghadirkan panorama pesisir yang khas, kawasan tersebut juga berperan menjaga ekosistem mangrove yang memiliki fungsi penting bagi lingkungan.

Kepala Dinas Pariwisata Kalimantan Timur, Ririn Sari Dewi, menilai keberadaan Bontang Mangrove Park menunjukkan pengembangan sektor pariwisata dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga kelestarian alam.

“Bontang Mangrove Park menunjukkan pengembangan pariwisata tidak harus mengorbankan lingkungan. Kawasan ini justru tumbuh melalui upaya konservasi yang konsisten,” kata Ririn, Kamis (4/6/2026).

Menurut dia, keberhasilan pengelolaan kawasan tersebut tidak terlepas dari kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat lokal terlibat dalam menjaga sekaligus mengembangkan kawasan mangrove menjadi destinasi wisata yang bernilai ekonomi.

Model pengelolaan tersebut, bahkan mendapat perhatian dari Komisi IV DPR RI. Kawasan ini dinilai menjadi salah satu contoh pengembangan ekowisata berbasis konservasi yang dapat dijadikan rujukan bagi daerah lain.

“Model kolaborasi pariwisata seperti ini dapat direplikasi kabupaten/kota lainnya agar kekayaan alam daerah tetap lestari,” ujarnya.

Bontang Mangrove Park memiliki kawasan mangrove seluas 279 hektare. Pengunjung dapat menjelajahi area tersebut melalui jembatan kayu ulin sepanjang 2,15 kilometer yang membelah kawasan hutan bakau.

Jalur pejalan kaki itu menjadi daya tarik utama karena memungkinkan wisatawan menikmati suasana alami tanpa mengganggu habitat yang ada. Dari atas jembatan, pengunjung dapat melihat hamparan vegetasi mangrove yang tumbuh rapat di sepanjang kawasan pesisir.

Baca Juga:  Dibebaskan, Ditangkap Lagi

Suasana teduh dan tenang menjadi pengalaman yang banyak dicari wisatawan. Sepanjang perjalanan, suara satwa liar dan hembusan angin dari arah laut menambah kesan alami yang sulit ditemukan di kawasan perkotaan.

Tidak hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi, kawasan ini juga menjadi sarana pembelajaran mengenai pentingnya ekosistem mangrove bagi kehidupan pesisir. Berbagai jenis vegetasi dapat ditemukan di kawasan tersebut, mulai dari Rhizophora hingga Avicennia yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan.

Mangrove dikenal sebagai salah satu ekosistem yang mampu menyerap karbon dalam jumlah besar, menjaga kualitas perairan, sekaligus menjadi tempat berkembang biak berbagai jenis satwa.

“Wisatawan tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga mendapatkan pengetahuan mengenai pentingnya menjaga ekosistem mangrove bagi keberlangsungan wilayah pesisir,” ujar Ririn.

Keanekaragaman hayati menjadi daya tarik lain yang dimiliki kawasan ini. Pengunjung berkesempatan melihat berbagai satwa yang hidup di habitat alaminya, termasuk bekantan yang merupakan primata endemik Pulau Kalimantan.

Satwa berhidung panjang tersebut kerap terlihat berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya di area mangrove. Selain bekantan, kawasan ini juga menjadi habitat monyet ekor panjang serta sejumlah jenis burung air.

Bangau tong-tong menjadi salah satu satwa yang sering menarik perhatian wisatawan dan fotografer alam. Burung berukuran besar itu kerap terlihat mencari makan di kawasan perairan dangkal sekitar hutan mangrove.

Ririn menilai, keterlibatan masyarakat sekitar menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan kawasan wisata tersebut. Selain mendukung pelestarian lingkungan, keberadaan destinasi ini juga membuka peluang ekonomi bagi warga setempat melalui berbagai aktivitas wisata.

“Keterlibatan masyarakat menjadi kunci keberhasilan pengelolaan kawasan ini. Manfaat ekonomi dapat dirasakan tanpa mengurangi fungsi ekologis yang dimiliki hutan mangrove,” katanya.

Baca Juga:  Bom Waktu untuk Kaltim

Di balik potensi wisatanya, Bontang Mangrove Park memiliki peran penting dalam menjaga kawasan pesisir. Akar-akar bakau yang tumbuh rapat berfungsi menahan abrasi dan meredam gelombang laut yang mengancam garis pantai.

Fungsi ekologis tersebut menjadi alasan utama mengapa kawasan mangrove terus dipertahankan dan dikembangkan. Upaya rehabilitasi yang dilakukan selama bertahun-tahun menunjukkan hasil yang signifikan.

Data pengelolaan kawasan mencatat luas mangrove di lokasi tersebut meningkat dari 84,67 hektare pada 2002 menjadi 279 hektare saat ini. Pertumbuhan itu menunjukkan keberhasilan program konservasi yang dilakukan secara berkelanjutan.

Pencapaian tersebut, sekaligus memperlihatkan pengembangan destinasi wisata dapat berjalan selaras dengan upaya pelestarian lingkungan. Bontang Mangrove Park, kini tidak hanya dikenal sebagai tempat berwisata, tetapi juga sebagai contoh bagaimana kawasan alam dapat dijaga sambil memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Kami berharap semakin banyak daerah di Kalimantan Timur yang mengembangkan destinasi berbasis alam dan konservasi sehingga potensi wisata dapat tumbuh sejalan dengan upaya pelestarian lingkungan,” tutur Ririn.

Dengan luas kawasan yang terus bertambah, keberagaman satwa yang tetap terjaga, serta keterlibatan berbagai pihak dalam pengelolaannya, Bontang Mangrove Park menjadi salah satu wajah pariwisata berkelanjutan Kalimantan Timur yang mengedepankan keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian alam. (MAYANG SARI/arie)

Leave Comment

Related Posts