Jembatan di Sungai Mahakam makin sering tertabrak tongkang. Bahkan, belum sebulan Jembatan Mahakam Ulu, sudah ditabrak lagi. Tak salah-salah, 2 tongkang terlibat. Lebih sering tertabrak tentunya lebih rawan.
Belum genap sebulan usai ditabrak, Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu) kembali mengalami insiden serupa. Kali ini, dua tongkang bermuatan batu bara yang gagal bermanuver saat hendak tambat, tongkang Roby-311 yang ditarik tugboat Bloro-7 serta tongkang Danny-95 yang ditarik tugboat Raja Laksana-166 menabrak pilar jembatan hingga membuat struktur jembatan sempat bergoyang pada Minggu (4/1/2026) dini hari.
Insiden tabrakan tongkang batu bara yang melibatkan pilar Jembatan Mahulu serta rumah warga di bantaran Sungai Mahakam, kini dalam penanganan aparat kepolisian. Peristiwa tersebut masih diselidiki untuk mengungkap penyebab pasti serta memastikan ada tidaknya unsur kelalaian dalam aktivitas pelayaran di jalur sungai tersebut.
Perwira Pamapta I Polresta Samarinda, Ipda Rifqhi Sactio, membenarkan adanya laporan insiden tersebut. Informasi awal diterima dari warga sekitar tak lama setelah kejadian, saat tongkang dilaporkan hanyut dan bergerak tak terkendali di alur Sungai Mahakam.
“Ya, benar. Kami telah menerima laporan dari masyarakat sekitar pukul setengah dua dini hari. Laporan menyebutkan adanya tongkang yang menabrak pilar jembatan dan rumah warga,” ujar Rifqhi dihubungi, Minggu, (4/1/2025).
Berdasarkan hasil pendataan sementara di lokasi kejadian, terdapat dua rangkaian kapal yang berada di sekitar titik insiden. Rangkaian pertama yakni tugboat Bloro-7 yang menarik tongkang Roby-311. Rangkaian lainnya adalah tugboat Raja Laksana-166 yang menarik tongkang Danny-95.
Rifqhi menjelaskan, salah satu tongkang diduga mengalami lepas tali towing saat berada dalam posisi menunggu proses penambatan. Dalam kondisi tersebut, tongkang kemudian hanyut mengikuti arus Sungai Mahakam yang saat itu cukup deras.
“Tongkang tersebut lebih dulu menabrak pilar Jembatan Mahakam Ulu, kemudian terus bergerak hingga menghantam kawasan permukiman warga,” bebernya.
Untuk kepentingan penyelidikan, seluruh anak buah kapal (ABK) dari kapal-kapal yang terlibat telah diamankan oleh kepolisian. Pemeriksaan dilakukan oleh Unit Gakkum Polairud Polresta Samarinda guna menggali keterangan teknis terkait prosedur pelayaran, kondisi kapal, hingga pola pengawasan saat kejadian.
“ABK sudah kami amankan dan sedang menjalani pemeriksaan. Kami masih mendalami apakah ada unsur kelalaian atau pelanggaran aturan pelayaran,”ujar Rifqhi.
Selain memeriksa kru kapal, aparat juga melakukan pengecekan dan pemantauan terhadap kondisi pilar jembatan.
“Setelah ini akan dilaksanakan pengecekan jembatan lebih lanjut,” jelasnya.
Hingga kini, Warga terdampak masih berharap adanya ganti rugi. Selain itu, Warga sekitar berharap agar tidak ada dampak lain yang ditimbulkan lebih serius. Seluruh temuan lapangan tersebut akan menjadi bahan evaluasi dan bagian dari proses hukum lanjutan.
Sementara itu, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) turut memberikan tanggapan awal terkait insiden tersebut. SVP Sekretaris Pelindo, Tubagus Patrick, menyatakan bahwa peristiwa itu terjadi di luar jam prosedur operasional standar (SOP) pelayanan Pelindo.
“Untuk sementara, kondisi tersebut berada di luar SOP pelayanan kami. Tugboat tersebut hanyut saat sedang menunggu waktu pelayanan,” ujar Patrick.
Ia menjelaskan, setelah laporan tongkang hanyut diterima, tim di lapangan langsung memfokuskan upaya pada proses evakuasi untuk mencegah risiko lanjutan, baik terhadap alur pelayaran maupun infrastruktur di sekitar sungai.
“Setelah hanyut, tim fokus melakukan evakuasi terlebih dahulu, menepikan kapal”sebutnya.
Menurut Patrick, proses evakuasi berlangsung hingga dini hari dan baru dapat diselesaikan beberapa jam setelah kejadian, seiring dengan upaya penanganan teknis di lapangan.
“Evakuasinya selesai sekitar pukul 03.50 Wita,”ujarnya.
Patrick menegaskan, penyebab pasti mengapa tongkang bisa hanyut masih dalam tahap pemeriksaan internal. Pelindo saat ini masih melakukan koordinasi dengan berbagai pihak terkait, termasuk operator kapal dan instansi berwenang, sebelum menyampaikan pernyataan resmi secara menyeluruh.
“Kami mohon waktu. Tim kami masih melakukan koordinasi ulang dengan pihak-pihak terkait. Jika sudah ada hasilnya, akan kami informasikan kembali sebagai respons resmi dari Pelindo Group,”katanya.
Insiden ini kembali menyorot aspek keselamatan pelayaran di Sungai Mahakam yang selama ini menjadi jalur padat angkutan batu bara. Maupun keselamatan para pengendara yang melintas di atas jembatan.
Aparat kepolisian menyatakan penanganan kasus ini akan dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya pada aspek hukum, tetapi juga sebagai bahan evaluasi guna mencegah kejadian serupa terulang di kemudian hari. (MAYANG/ARIE)













